Please find the English language post from which this was adapted here.

Konsep apapun berbasis software / software-defined; mulai dari Software Defined Networking (SDN), Software Defined Storage (SDS), dan bahkan meluas hingga Software Defined Data Centre (SDDC); kini mulai banyak dikumandangkan di dunia IT enterprise. IDC memperkirakan bahwa pasar untuk Software Defined Networking (SDN) akan mencapai sekitar US$ 3,7 Milyar di tahun 2016 . Selain itu, IDC juga mengungkap bahwa pelaku bisnis di Indonesia dapat menghemat biaya sebesar USD1.6 Milyar dalam rentang waktu tahun 2003 – 2020 sebagai akibat langsung dari pendekatan software-defined dalam pengelolaan IT, serta penggunaan teknologi virtualisasi untuk komputasi, perangkat penyimpanan, dan jaringan.

Secara umum, revolusi dunia IT enterprise mengarah ke software-defined infrastructure yang berpusat pada pemisahan hardware; yang menjalankan transaksi data; dari layer software yang memerintahkan hardware tersebut. Jika dianalogikan, ini seperti memisahkan pikiran dengan tubuh dengan maksud menjaga agar pikiran dalam keadaan prima dan kondisi tubuh tetap bugar; sehingga biaya perawatan dan ‘pengobatan’ dapat ditekan seminimal mungkin.

Secara perlahan tapi pasti, dunia IT enterprise bergerak menuju era software-defined. IDC mengungkap bahwa Software Defined Networking (SDN) bertumbuh dengan pesat secara global di tahun 2013 hingga 2014. Di tahun itu, mulai banyak perusahaan penyedia peralatan telekomunikasi yang mengumumkan bahwa mereka menyediakan peningkatan produk dengan teknologi SDN generasi pertama. Namun, di tahap awal tersebut, IDC juga menemukan bahwa berbagai pendekatan yang dilakukan vendor-vendor tersebut membuat SDN terfragmentasi. Hal ini disebabkan karena setiap vendor menggunakan arsitektur yang berbeda-beda dan hanya bisa diterapkan dalam produk / solusi yang ditawarkan oleh vendor tersebut. Di tahun 2015 dan seterusnya, IDC memprediksi bahwa penawaran SDN yang multi-vendor akan mulai bermunculan. 

Meskipun SDN bertumbuh pesat, namun kita masih berada di tahap awal dalam perjalanan menuju apapun berbasis software atau disebut dengan Software Defined Everything (SDE). Terdapat dua faktor utama yang mendorong pergerakan dari SDN menuju SDE. Faktor pertama adalah dorongan bisnis. Tuntutan bisnis dan harapan dari pengguna akhir berpengaruh besar terhadap bagaimana sebuah data center dikelola dan diterapkan di sebuah perusahaan. 

Lebih lanjut lagi, pergeseran paradigma tentang bagaimana pengelolaan dan penerapan data center juga turut disebabkan oleh faktor kedua: yaitu perkembangan teknologi dan regulasi pemerintah di industri-industri vertikal, seperti contoh lembaga keuangan ataupun sektor publik. Faktor kedua ini memunculkan kebutuhan bagi perusahaan untuk mampu menciptakan efisiensi yang lebih besar, seraya mampu memenuhi berbagai persyaratan ketat yang diterapkan oleh pemerintah di setiap industri demi perlindungan dari semakin canggih serangan siber dengan biaya yang lebih rendah.

Bagian penting lainnya dari perkembangan era software-defined adalah Software Defined Data Centre (SDDC). Kemunculan SDDC didorong oleh kebutuhan akan data center yang lebih efisien serta dapat dikelola dengan lebih sederhana, dan semakin miripnya fungsionalitas software dengan kapabilitas dari hardware. Hal ini bertepatan dengan munculnya Software Define Fabric (SDF) yang melampaui abstraksi tradisional dari layer networking, dan penambahan layanan-layanan baru seperti keamanan dan layer aplikasi yang ditanamkan di seluruh fabric.
Selain SDDC, perkembangan selanjutnya adalah Software Defined Application Services (SDAS). Dalam menyediakan SDAS, F5 mengambil prinsip yang sebelumnya telah diterapkan pada SDN (terutama yang yang membahas tentang Layer 2-3 di dalam network), dan menempatkannya pada layer aplikasi (Layer 4-7). SDAS merupakan layanan yang ditempatkan di antara pengguna dan aplikasi di dalam network, yang memberikan kemampuan bagi pemilik aplikasi untuk mengatasi berbagai tantangan aplikasi yang berkaitan dengan mobilitas, keamanan, akses dan identitas, kinerja dan ketersediaan melalui arsitektur sistem mereka.

Melihat berbagai faktor pendorong yang telah disebutkan di atas, pada intinya perusahaan dituntut memiliki ekosistem IT yang fleksibel, skalabel, efektif secara biaya, serta lincah untuk bisa memenuhi kebutuhan bisnis dan pengguna akhir, seraya mampu mematuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah. Karena alasan tersebutlah muncul teknologi software-defined dan terjadi pergerakan menuju era Software Defined Everything (SDE).

SDE akan menjadi tren yang terus berkembang dan menjadi semakin penting di industri IT enterprise. Sebagai awal dari perjalanan menuju Software Defined Everything (SDE), Software Defined Networking (SDN) mulai dilirik oleh banyak perusahaan. Saat ini, vendor penyedia layanan cloud dan operator telekomunikasi menjadi perusahaan terdepan dalam barisan untuk menerapkan SDN, karena SDN memungkinkan jaringan mereka menjadi lebih fleksibel, skalabel, lincah, serta lebih efektif dari segi biaya, sehingga pada akhirnya memungkinkan mereka mempersingkat waktu penerapan aplikasi dan layanan baru.