Please find the English language post from which this was adapted here.

Cloud adalah platform komputasi masa depan bagi perusahaan, karena diyakini dapat mendorong tingkat dan laju perubahan dalam perusahaan. Menghemat biaya operasional dan modal, meningkatkan kelincahan dalam melakukan proses bisnis, serta meningkatkan produktivitas merupakan faktor-faktor utama yang membuat pertumbuhan komputasi cloud di dunia maupun di Indonesia semakin pesat.  

Tingginya tingkat adopsi komputasi cloud tercermin dalam sebuah riset terbaru dari IDC . Riset ini mengungkap bahwa ada lebih dari 65% perusahaan IT dunia berkomitmen untuk mengadopsi teknologi cloud sebelum tahun 2016. Di Indonesia sendiri, menurut lembaga riset International Data Corporation (IDC), pasar komputasi cloud di dalam negeri tahun 2014 diprediksi mencapai US$ 168 juta dan akan meningkat hingga US$ 377,8 juta di 2017.

 
Sayangnya, pesatnya pertumbuhan komputasi cloud ini masih dihantui oleh kekhawatiran tentang keamanan dan cara-cara perlindungan platform tersebut. Menurut hasil survei ‘Global Tech Adoption Index’  tahun 2014, menyebutkan keamanan sebagai faktor utama yang menghalangi perusahaan mengimplementasikan komputasi cloud. 


Banyak paradigma di perusahaan yang menyatakan bahwa keamanan data center berbasis cloud tidaklah sebaik data center on-premise, atau bahkan tidak ada solusi ampuh yang diciptakan untuk mampu mengatasi masalah keamanan yang spesifik, seperti kebocoran data. Hal ini tidaklah benar. Paradigma ini muncul karena, calon pengguna merasa bahwa mereka akan kehilangan kendali penuh atas data Center tersebut. Meskipun terdapat keraguan mengenai komputasi cloud, namun faktanya data center berbasis cloud bisa memiliki lapisan keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan data center on-premise.


Apa yang mendorong keamanan cloud menjadi lebih tangguh? Karena penyedia layanan cloud semakin termotivasi untuk meningkatkan keamanan mereka. Keamanan merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap reputasi serta kelanjutan bisnis mereka. Bayangkan jika perusahaan penyedia layanan tersebut tidak berhasil menjaga keamanan, pelanggan tidak mungkin mau membeli layanan dari perusahaan itu atau bahkan mempercayakan data mereka disimpan ke dalam sistem yang tidak aman tersebut. Untuk menjaga kelangsungan bisnis, penyedia layanan cloud berinvestasi ke dalam teknologi-teknologi keamanan serta mempekerjakan profesional dalam bidang keamanan untuk mengoptimalkan dan memastikan keamanan sistem mereka. Gartner meramalkan bahwa pasar cloud security akan meningkat dari US$2,1 miliar menjadi US$3,1 miliar di tahun 2015 ini, hampir meningkat 33%.


Namun perlu diingat bahwa ketika CIO mengambil keputusan untuk memindahkan aplikasi perusahaan dari data center on-premise ke cloud, perusahaan sebenarnya melepaskan beberapa kontrol atas perlindungan data mereka. Karena keamanan tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh perusahaan, terlepas dari kepercayaan terhadap penyedia layanan cloud, CIO perlu memastikan keamanan data perusahaan semampunya. Salah satu cara yang paling mungkin dilakukan adalah menerapkan sistem perlindungan di dalam lapisan aplikasi.


Sistem perlindungan dalam lapisan aplikasi merupakan salah satu keunggulan dari F5 Networks. Solusi-solusi dari F5 mampu membantu mengonsolidasikan security dan access policies ke lapisan aplikasi dengan menggunakan Security Assertion Markup Language (SAML). Dengan mengonsolidasikan SAML ke dalam lapisan aplikasi, perusahaan akan mampu melakukan exchange authentication dan authorization data antar berbagai pihak. Setelah konsolidasi tersebut, perusahaan akan memiliki kemampuan untuk menegakkan kebijakan dan memastikan bahwa end-user dapat mengakses layanan tersebut kapanpun dan di manapun secara aman. Dengan menggunakan solusi F5, penerapan platform berbasis cloud di perusahaan menjadi semakin sederhana dan tentunya lebih aman.