Please find the English language post from which this was adapted here.

Keamanan dan integrasi sistem merupakan dua tantangan terbesar bagi perusahaan dalam mengadopsi komputasi cloud, dan jika tidak diatasi dengan benar, maka akan semakin meningkatkan kerentanan dalam hal keamanan serta kerumitan operasional. Charles Chong, Solution Architect F5 Networks menjelaskan cara mengatasinya.

Semakin banyaknya perusahaan di Indonesia yang mengadopsi teknologi cloud, mendorong tingginya angka pertumbuhan komputasi cloud di negara ini. Menurut laporan dari Gartner , nilai pasar komputasi cloud di Indonesia pada akhir tahun 2014 akan mencapai USD$ 50.7 juta dan Software-as-a-Service (SaaS) akan menjadi primadona di pasar ini. Gartner juga memprediksi bahwa nilai pasar SaaS merupakan penyumbang kontribusi terbesar terhadap pasar komputasi cloud di Indonesia sebesar 50%, dengan nilai yang mencapai USD$ 25.3 juta. 

Menggali data lebih dalam lagi, Gartner memprediksi bahwa angka pertumbuhan pasar komputasi cloud di Indonesia akan melampaui angka rata-rata pertumbuhan negara-negara di wilayah Asia Pasifik (tidak termasuk India). Secara lebih detail, pasar komputasi cloud di Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan sebesar 41.5%, sementara angka rata-rata pertumbuhan di negara-negara di wilayah Asia Pasifik (tidak termasuk India) hanya mencapai hingga 36.3% 

Angka pertumbuhan ini memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak lagi ragu akan manfaat yang bisa didapat dari komputasi cloud. Agar perusahaan mendapatkan manfaat yang optimal maka mereka harus mampu mengatasi dua tantangan terbesar dalam mengadopsi cloud, yaitu keamanan dan integrasi sistem. Apabila tidak melakukan pendekatan yang benar dalam mengatasi kedua tantangan ini, maka perusahaan akan berhadapan dengan masalah-masalah lainnya sehingga pemanfaatan teknologi cloud tidak optimal atau bahkan bisa merugikan perusahaan.

Memastikan keamanan cloud

Keamanan merupakan faktor yang bisa mengancam reputasi dan bahkan kelangsungan bisnis perusahaan. Terlebih lagi, ketika memanfaatkan teknologi cloud, resiko menjadi semakin besar. Tingginya resiko ini, membuat perusahaan gencar meningkatkan sistem keamanan mereka dengan menanamkan investasi ke dalam berbagai perangkat keamanan, hingga mempekerjakan tenaga-tenaga ahli di bidangnya. Sayangnya, karena perusahaan seringkali tidak memiliki informasi yang akurat tentang cara mengamankan sistem mereka di cloud, maka investasi-investasi ini menjadi percuma.

Agar mampu mengefektifkan investasi, sebaiknya perusahaan memikirkan ulang sistem keamanan mereka dan mengevaluasi kembali infrastruktur yang sudah ada sebelum mengadopsi teknologi cloud. Hal ini perlu dilakukan karena serangan-serangan yang terjadi saat ini menggunakan berbagai macam metode yang mampu menembus sistem-sistem keamanan tradisional; seperti firewall tradisional.

Perlu diketahui bahwa cloud mampu mentransformasi infrastruktur perusahaan menjadi lebih application-centric. Karena aplikasi menjadi pusat dari infrastruktur IT perusahaan, maka serangan multi-layer harus dapat diantisipasi ketika perusahaan merancang infrastruktur cloud ataupun berlangganan layanan cloud dari pihak ketiga. Jika tidak diantisipasi dengan baik, bahkan sebuah serangan DDoS yang sederhana sekalipun mampu mengacaukan seluruh sistem perusahaan.

Di dalam sistem yang application-centric, keamanan sebaiknya dilihat dari sudut pandang aplikasi. Karena itu untuk mengamankannya, mereka bisa menggunakan solusi seperti Web Application Firewalls, karena menawarkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh firewall tradisional. Selain itu, perusahaan juga dapat menerapkan solusi-solusi seperti BIG-IP Application Security Manager yang dapat memastikan bahwa aplikasi terlindungi dengan baik dan dapat bekerja secara optimal pada infrastruktur cloud maupun on-premise.    

Membuat Pengintegrasian dan Pengelolaan Sistem On-premise serta Cloud Tidak Lagi Rumit

Dalam mengadopsi cloud, perusahaan membutuhkan integrasi dan pengelolaan sistem on-premise dan cloud. Bagi perusahaan yang memiliki ekosistem yang homogen, hal ini bukanlah suatu tantangan, namun pada kenyataannya, banyak perusahaan memiliki ekosistem heterogen yang terus berkembang. Perkembangan tersebut terjadi karena seiring dengan waktu perusahaan menambahkan berbagai aplikasi dan layanan ke dalam sistem mereka. Dengan memiliki ekosistem yang heterogen; termasuk juga memiliki sistem legacy, serta aplikasi yang berbeda-beda dan telah disesuaikan secara khusus untuk sistem yang sudah ada; maka integrasi dan pengelolaan menjadi tantangan besar bagi perusahaan.

Ketika teknologi cloud tidak diterapkan dengan benar, maka teknologi ini justru membuat pengelolaan menjadi lebih rumit dan memperburuk pengalaman penggunanya. Tantangan tersebut dapat diatasi, dengan melakukan analisis secara menyeluruh pada infrastruktur yang telah dimiliki perusahaan dan menggunakan pendekatan yang bertahap dalam melakukan migrasi ke cloud. Selain itu, perusahaan juga dapat menggunakan cloud sebagai alat untuk melakukan uji coba dalam integrasi sistem, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap aktifitas bisnis ataupun ekosistem sistem IT perusahaan secara langsung.

Menurut laporan lain dari Frost & Sullivan , nilai pasar komputasi cloud di Indonesia diprediksi akan mencapai lebih dari USD$120 juta di tahun 2017 dan SaaS tetap akan menjadi primadona di pasar. Oleh karena itu, perusahaan di Indonesia perlu memahami bagaimana mengatasi kedua tantangan utama tadi dengan benar, agar mampu benar-benar mengoptimalkan pemanfaatan cloud di perusahaan mereka dan tidak sekedar ‘ikut-ikutan’.