Please find the English language post, by Jezmynn Koh, from which this was adapted here: https://devcentral.f5.com/articles/whats-new-in-2015-consumer-hyperawareness-public-services-going-digital-and-a-shift-in-the-way-we-vi

Pada tahun 2014 ini telah terjadi banyak hal menarik yang terjadi di dunia, khususnya dari sisi IT. Contohnya, kita telah melihat beberapa transisi dari suatu hal yang baru menjadi hal yang mainstream; seperti contoh big data yang awalnya masih berupa gagasan dan kini telah menjadi kenyataan, harga smartphone yang semakin murah bahkan hingga mencapai harga di bawah 500 ribu rupiah, banyaknya hal menarik yang terjadi di dunia e-commerce di Indonesia, dan masih banyak lagi. Khusus tentang e-commerce, industri ini sedang berkembang pesat di Indonesia; dimana baru-baru ini ada sebuah e-commerce yang mencetak rekor dengan menerima pendanaan sebesar US$100 juta dan dicanangkannya Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) oleh pelaku-pelaku e-commerce di negara ini. 

Namun, layaknya sebuah koin yang mempunyai dua buah sisi, tentu juga ada beberapa hal buruk yang terjadi di 2014. Kita tentu ingat beberapa serangan yang terjadi akibat Heartbleed dan Shellshock; bahkan salah satu situs komunitas terbesar di Indonesia sempat masuk ke dalam daftar situs yang rentan terkena serangan Heartbleed. Selain serangan yang memanfaatkan kedua celah keamanan tersebut, tahun 2014 ini juga mencatat terjadinya serangan-serangan cyber yang semakin canggih, kompleks, dan masif. Masih hangat di pemberitaan saat ini tentang sebuah perusahaan produsen film terkemuka di dunia yang berhasil dibobol oleh peretas. Serangan ini mengakibatkan data-data rahasia perusahaan tersebar ke publik.

Contoh-contoh diatas, contoh yang baik maupun buruk, menjadi bukti bahwa tahun 2014 menjadi tahun yang sangat dinamis bagi perkembangan IT di tanah air. Lalu bagaimana perkembangan IT di tahun 2015 yang tinggal beberapa hari lagi?  Inilah saatnya kita mengintip apa saja yang telah menanti di tahun 2015. 

Setelah terjadi perdebatan dan diskusi yang cukup panjang bersama dengan para ahli-ahli di F5 Networks, kami mengidentifikasi tren-tren utama yang kami prediksi akan berdampak besar bagi perkembangan teknologi, di sektor bisnis dan pemerintahan. 

Meningkatnya “Consumer Hyperawareness”

Memiliki kemampuan untuk memahami tentang apa yang menjadi faktor pendorong bagi pelanggan dalam membeli sebuah produk, layanan, ataupun solusi, telah menjadi sebuah keharusan bagi perusahaan yang ingin sukses di pasar. Di tahun 2015 nanti, seiring dengan meningkatnya kompetisi antar perusahaan dalam memanfaatkan berbagai kemampuan untuk menggali wawasan dan data-data pelanggan, perusahaan semakin didesak untuk memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya akan pola dan preferensi pelanggan; guna mampu meningkatkan keunggulan kompetitif mereka. Kami menyebut tingkat pemahaman ini sebagai ‘consumer hyperawareness’.

Consumer hyperawareness akan merubah bagaimana perusahaan menyediakan dan menyesuaikan produk, layanan, dan dukungan ke pelanggan; karena dengan tingkat pemahaman terhadap pelanggan yang tinggi, perusahaan tidak hanya akan mampu mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih tepat, tetapi juga dapat membuat penawaran mereka lebih bermanfaat bagi perusahaan itu sendiri dan juga pelanggannya.

Pemanfaatan kanal digital untuk meningkatkan layanan publik

Masyarakat di Indonesia kini sudah semakin terhubung dengan jaringan internet dan lebih mahir dalam menggunakan teknologi (baik smartphone maupun komputer); minimal mampu menggunakan kedua perangkat tersebut untuk mengakses sosial media. Hal ini tercermin dari data yang mengungkap bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengguna Path terbesar di dunia dan pengguna Facebook terbesar keempat di dunia .

Selain membuktikan bahwa masyarakat Indonesia semakin terhubung dengan internet, data tersebut juga menunjukan kalau masyarakat Indonesia semakin nyaman dalam berbagi informasi pribadi ke publik melalui kanal sosial media mereka. Belum lagi, pesatnya perkembangan e-commerence di Indonesia yang menunjukan bahwa masyarakat mulai nyaman berbelanja secara online. Kedepannya, informasi-informasi dari sosial media, dan berbagai kanal online lainnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menggali wawasan dan menjaring data guna meningkatkan pelayanan ke publik. Manfaat ini bahkan bisa menular ke sektor pendidikan dimana pemerintah dapat menemukan kurikulum terbaik berdasarkan data yang didapatkan dari pelajar dan apa yang mereka kerjakan.
 
Namun tentu saja di sisi lain, hal ini tidak lepas dari resiko yang mungkin saja terjadi. Kesempatan ini mungkin saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang bermaksud jahat untuk mengeruk keuntungan bagi mereka sendiri; seperti pencurian identitas dan peretasan. 

Tidak semua Cloud diciptakan setara

Sejak beberapa tahun terakhir, pemindahan teknologi ke cloud; mengganti dan mereplika data center fisik ke data center yang berbasis cloud; menjadi topik perbincangan yang panas di industri IT.

Namun, kini ada kecenderungan dimana fokus pada efisiensi menjadi semakin berkurang di perusahaan; karena sering kali biaya operasional (OPEX) mereka menjadi lebih besar dari biaya modal (CAPEX) yang justru hendak dihindari. Melihat permasalahan ini, kedepannya perusahaan akan semakin tertarik dengan optimalisasi cloud dan akan ada semakin banyak perusahaan yang akan mengadopsi sebuah strategi yang dinamakan “Cloud First” ; artinya produk, layanan, dan solusi yang dikembangkan khusus untuk dijalankan pada ekosistem berbasis cloud; dalam strategi bisnis mereka. 

Di pasar negara berkembang khususnya, kami mengantisipasi adanya adopsi teknologi baru yang cepat, dan model bisnis yang dapat mendorong terjadinya inovasi.