Please find the English language post, by Kunaciillan Nallappan​, from which this was adapted here.

Pasar e-commerce sedang berkembang dengan pesat di Indonesia. Setidaknya di tahun 2014 ini saja, sudah ada lebih dari 5 startup dan perusahaan yang membuka situs e-commerce baru . Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, pasar e-commerce di indonesia telah meningkat hampir 2 kali lipat pada tahun 2013, sebesar 130 triliun rupiah, dibandingkan pada tahun 2012, yaitu sebesar 69 triliun rupiah . Peningkatan ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan e-commerce tercepat di dunia.

Meningkatnya pasar e-commerce ini, juga turut meningkatkan volume transaksi perbankan online. Dengan turut bertumbuhnya aktifitas transaksi perbankan digital, juga membuka peluang para ‘penjahat’ cyber dalam melakukan aksinya jika sistem transaksi tidak di lindungi dengan benar. Bayangkan jika informasi tentang kartu kredit dan 3/4 digit nomor verifikasi karu kredit, yang umumnya disebut dengan ‘CID number’, bisa direkam oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tentu saja hal ini akan merugikan Anda secara materi karena pelaku bisa melakukan transaksi memakai kartu Anda. 

Dengan mempertimbangakan resiko yang mungkin terjadi, bagaimana lembaga keuangan dan layanan e-commerce bisa mencegah dan menanggulangi resiko-resiko ini serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi para pelanggan mereka? 

F5 Networks, melihat keamanan sebagai sebuah proses dan oleh karena itu harus dikelola dengan benar. Sebaiknya ahli keamanan, yang bertugas mengembangkan kebijakan serta peraturan keamanan di dalam perusahaan, dan programmer, yang mengembangkan software atau aplikasi, dapat bekerja secara bersama-sama dalam mengembangkan sistem yang aman.

Dalam melindungi aplikasi yang menjadi aset penting perusahaan, keamanan sebaiknya tidak hanya diserahkan ke software engineer saja, tetapi sebaiknya juga turut melibatkan profesional di bidang keamanan. Dengan pendekatan tersebut maka beban pada programmer software untuk melakukan coding untuk kebijakan-kebijakan keamanan dapat di pindahkan ke profesional di bidang keamanan yang sudah memiliki kredibilitas.

Dengan menyikap keamanan sebagai sebuah proses, maka dapat dikatakan bahwa keamanan merupakan proses yang menyeluruh,yang memiliki kebijakan keamanan untuk mengatur berbagai area dimanapun ada interaksi antara pengguna dengan perusahaan - perangkat, akses, jaringan, aplikasi, dan perangkat penyimpanan.  Melihat kompleksitas dari beragamnya cara pengguna dalam mengakses situs/aplikasi, hal ini mendorong perusahaan untuk melakukan hal yang serupa dengan BPR/ business process re-engineering atau sebuah strategi pengelolaan bisnis yang fokus untuk menganalisa dan mendesain proses bisnis dan alur kerja di sebuah perusahaan. Hal ini, jika dilihat dari sudut pandang CFO, dapat menghemat biaya operasional dan modal yang besar.

Sebagai contoh, dalam tren saat ini, ketika suatu perusahaan ingin mengamankan aplikasi mereka, maka mereka akan menggunakan application delivery controller (ADC). ADC didesain untuk mengamankan aplikasi yang diakses oleh para penggunanya. ADC berperan sebagai gatekeeper/‘’penjaga gerbang” yang mengamankan aplikasi dengan cara mencegah pihak-pihak yang tidak memiliki otorisasi untuk mengakses aplikasi, dan menambahkan kemampuan bagi perusahaan untuk dapat menanggulangi serangan-serangan yang ditujukan kepada aplikasi.

Tantangan lain yang dihadapi oleh CIO saat ini adalah, bagaimana mereka bisa melindungi sistem mereka seiring meningkatnya ancaman serangan cyber yang semakin masif dan canggih, di samping itu juga munculnya keinginan untuk memanfaatkan cloud untuk berkembang dan menghemat biaya, namun akhirnya menyebabkan keamanan jadi tidak terkendali. 

Dalam menghadapi situasi ini, perusahaan membutuhkan solusi-solusi keamanan yang inovatif, yang mampu memahami sifat aplikasi-aplikasi yang digunakan perusahaan dan juga kebiasaan pengguna, serta mampu menerapkan kebijakan keamanan yang efektif dan tidak menurunkan kualitas pengalaman pengguna. Bagi F5, keamanan merupakan bisnis yang berlandaskan kepercayaan. Memiliki proses dan kebijakan yang tepat merupakan hal yang jauh lebih penting dari hanya sekedar memilih vendor. Proses dan kebijakan perusahaanlah yang menentukan apa yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan, bukan sebaliknya.