For insights on Shellshock mitigation in English, please see "Shellshock: Keep Calm and Mitigate" by Lori MacVittie: https://devcentral.f5.com/articles/shellshock-keep-calm-and-mitigate.

Shellshock merupakan celah terburuk selama satu dekade yang menimpa internet; menurut para ahli keamanan IT ; dan kerentanan ini tidak hanya mengintai pengguna enterprise tetapi juga end-user yang menggunakan perangkat pintar.

Coba bayangkan jika seseorang memiliki kemampuan untuk mengambil alih kontrol suatu sistem komputer secara remote / dari jarak jauh, dan memanipulasi semua hal yang terdapat di dalamnya. Dengan memiliki kontrol penuh, orang tersebut tidak hanya akan mampu mematikan sistem IT yang dikontrolnya, tetapi juga bisa melakukan apapun terhadap informasi, data, serta aplikasi yang terdapat di dalam sistem tersebut. Alangkah buruknya, jika hal ini menimpa industri keuangan seperti bank dan institusi keuangan lainnya. Aksi pengambilalihan kendali sistem keuangan tentunya bisa berakibat fatal terhadap perusahaan maupun nasabah mereka, dimana pelaku tersebut juga bisa mengambil alih kontrol perangkat mobile para nasabah, mencuri data mereka, hingga melakukan berbagai transaksi tanpa disadari oleh nasabah tersebut.

Contoh di atas mungkin belum terjadi di Indonesia saat ini, tetapi hal tersebut meruapakan ancaman keamanan yang dimungkinkan terjadi karena adanya Shellshock bug. Ancaman diatas adalah ancaman nyata karena itu regulator keuangan di Amerika sedang gencar-gencarnya menyarankan bank dan institusi keuangan di negara tersebut agar secepatnya menambal celah keamanan sistem mereka, untuk meminimalkan dan mengatasi efek dari Shellshock. Perlu diketahui oleh semua orang, mulai dari pengguna enterprise hingga pengguna personal, bahwa ancaman keamanan ini tidak hanya berpotensi menyerang sektor keuangan, tetapi juga bisa berpengaruh ke hampir semua perangkat dan sistem yang terhubung dengan internet. Mengapa ‘Shellshock bug’ ini bisa sangat berbahaya?  

Shellshock bug adalah celah keamanan yang baru ditemukan dan terdapat di hampir seluruh komputer dan perangkat di dunia yang berbasis Linux; OS berbasis Linux, Android, hingga Mac OS X rentan terhadap eksploitasi celah keamanan ini. Celah keamanan ini juga bisa berdampak ke platform lain, seperti contohnya Windows, Bash shell; salah satu jenis program penerjemah baris perintah agar bisa dimengerti dan dijalankan oleh sistem operasi;

Siapapun bisa menjadi target eksploitasi dari celah keamanan ini, bahkan pengguna awam-pun bisa terkena dampaknya jika mengakses suatu website yang sistem keamanannya sudah dieksploitasi hacker menggunakan Shellshock bug.

Shellshock disebut-sebut sebagai bug / celah keamanan terburuk selama satu dekade. Parahnya celah keamanan ini sebenarnya sudah ada sejak lebih dari dua dekade. Karena sudah ada sejak lama, maka jutaan sistem; mulai dari perangkat pintar, komputer, dan server yang terdapat di institusi pemerintahan, militer, enterprise, hingga end-user; rentan terhadap celah keamanan ini.

Menurut U.S. Vulnerability Data-base skala tingkat keparahan dampak dari Shellshock bug ini mencapai nilai 10 dari 10; artinya sangat parah. Shellshock bug bahkan jauh lebih parah dari Heartbleed; suatu celah keamanan lainnya yang juga ditemukan beberapa saat lalu. Mengapa demikian? Karena jika hackers mengeksploitasi Heartbleed, mereka ‘hanya’ bisa memata-matai informasi dan data di dalam sistem yang mereka serang, sedangkan jika mengeksploitasi Shellshock bug, hacker akan mampu mengambil alih kontrol dari sistem tersebut. Lebih membahayakan lagi, celah keamanan ini dapat dieksploitasi dengan relatif mudah; hanya membutuhkan tiga baris kode yang sederhana untuk dimasukkan ke dalam shell sistem yang menjadi target.

Banyak vendor OS / sistem operasi yang sedang mengerjakan patch untuk menambal celah keamanan tersebut. Patch sistem tersebut tentu saja akan semakin banyak bermunculan dengan cepat, tetapi kita (dan tentu saja sang penyerang) tahu bahwa butuh waktu yang tidak sedikit untuk menerapkan patch tersebut ke dalam suatu sistem operasi. Sebelum menerapkan patch baru, vendor operasi sistem harus mensertifikasi hingga melakukan beberapa penyesuaian ke dalam sistem operasi mereka. Selagi menunggu patch untuk sistem operasi, kita sebagai pengguna tidak bisa diam saja menunggu serangan ini terjadi terhadap sistem kita. Kita harus bertindak segera untuk menemukan solusinya. 

Bagi pengguna end-user, sangat disayangkan karena mau tidak mau mereka harus menunggu vendor sistem mereka untuk memberikan update / patch yang bisa menambal celah sistem keamanan tersebut, namun pengguna enterprise lebih beruntung karena saat ini sudah tersedia berbagai pilihan untuk menanggulangi eksploitasi Shellshock bug melalui melalui aplikasi web. 

Agar bisa menanggulangi serangan melalui aplikasi web, enterprise membutuhkan Web Application Firewalls (WAF). WAF; contohnya BIG-IP ASM dari F5 Networks yang mendukung berbagai custom signature; bisa langsung digunakan untuk menghalang serangan ini. WAF dari F5 sudah ahli dalam mengidentifikasi upaya-upaya yang dilakukan oleh penyerang untuk menghindari deteksi keamanan, contohnya adalah penyandian dan penyusupan huruf-huruf tertentu.

Hal terpenting bagi para pengguna, mulai dari pengguna end-user hingga enterprise, adalah mengetahui adanya celah keamanan ini sehingga bisa lebih waspada. Karena segala sesuatu sudah semakin terhubung dengan internet / jaringan, maka sudah sepatutnya keamanan menjadi prioritas utama bagi pengguna.