Please find the English language post from which this was adapted here.

Pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia saat ini, membuat pola konsumsi berubah-ubah; baik di level konsumen maupun enterprise. Perubahan ini berpengaruh besar terhadap bagaimana para eksekutif perusahaan mengkaji kebutuhan teknologi perusahaan mereka, karena kini untuk bisa mengakses informasi dari perangkat apapun, kapanpun, dan di manapun sudah menjadi kebutuhan yang semakin meningkat. Kebutuhan ini menimbulkan tantangan bagi perusahaan untuk mampu menyediakan lebih banyak layanan kepada karyawan dan konsumen mereka, dalam batasan infrastruktur yang sudah ada, ditambah lagi dengan budget anggaran belanja IT yang kian menyusut dari tahun-ke-tahun, namun tanpa mengorbankan keamanan dan kinerja sistem IT perusahaan.  

Tantangan lainnya yang juga dihadapi perusahaan adalah semakin berkurangnya anggaran IT, yang dikarenakan keputusan belanja IT tidak lagi berada di tangan pimpinan divisi IT melainkan di tangan pimpinan divisi bisnis. Hal ini lumrah dilakukan karena perusahaan mencari berbagai cara untuk meningkatkan daya saing mereka dalam menghadapi pasar bebas dan salah satu cara yang paling mudah  dilakukan adalah efisiensi biaya. Agar perusahaan mampu menjaga efisensi biaya namun tetap dapat menyediakan berbagai inovasi ke pasar serta meningkatkan layanannya, maka perusahaan membutuhkan solusi yang memungkinkan mereka untuk menerapkan berbagai teknologi yang penting bagi perusahaan melalui software. Solusi ini merubah model pembelanjaan anggaran dari CapEx (biaya investasi) menjadi OpEx (biaya operasional), karena itu, di masa depan, IT akan dianggap sebagai utilitas. Keuntungan bagi perusahaan adalah mereka mendapatkan fleksibilitas untuk bisa mengembangkan layanan IT mereka, hanya dengan menambahkan software yang dibutuhkan ke dalam server tanpa perlu menanamkan investasi berupa hardware; bayangkan penghematan anggaran yang bisa dilakukan oleh perusahaan!

Pada akhirnya layanan-layanan on-demand yang didapat model lisensi software akan banyak digunakan oleh perusahaan, karena mereka dapat menyediakan berbagai layanan dengan cepat tanpa harus mengeluarkan biaya investasi yang besar di awal. Dengan model lisensi, para eksekutif perusahaan akan mampu meningkatkan (atau menurunkan) skala layanan mereka kapanpun dibutuhkan dengan mudah dan biaya yang efektif. 

Tren lainnya, yang juga mendorong perkembangan teknologi enterprise, adalah tingkat adopsi smartphone, tablet, dan PC portabel yang bertumbuh dengan pesat, serta kemunculan teknologi-teknologi ‘baru’ sepeti teknologi sosial dan Internet of Things. Khususnya untuk smartphone, saat ini banyak smartphone murah yang harganya sekitar 500 ribu rupiah, dan harga ini akan mampu menjangkau lebih banyak konsumen di Indonesia. 

Memang tidak dapat dihindari lagi, perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai cara yang lebih cerdas untuk mengakomodir dan melayani pelanggan dan karyawan mereka kapanpun dan di manapun secara online. Salah satu kebutuhan yang semakin meningkat di kalangan karyawan adalah BYOD, karena itu perusahaan harus siap mengamankan akses kedalam layanan perusahaan yang dilakukan dari berbagai macam perangkat, milik perusahaan maupun pribadi. Tren ini tentu saja tidak lepas dari ancaman keamanan, dimana serangan cyber menjadi semakin canggih dan masif, karena itu keamanan perlu menjadi prioritas bagi sebuah perusahaan.

Pada akhirnya baik itu untuk keamanan, mobilitas, kinerja ataupun memastikan ketersediaan aplikasi untuk diakses, perusahaan harus mampu menyelaraskan infrastruktur IT mereka dengan permintaan atau kebutuhan pengguna (pelanggan dan karyawan) yang berubah dari waktu-ke-waktu. 

Perubahan yang dapat terlihat saat ini adalah kebutuhan Generasi Y dan Generasi Z, di mana lingkungan sosial menjadi hal yang penting bagi mereka. Kedua generasi ini mengaburkan batasan antara aplikasi yang digunakan untuk pribadi dengan aplikasi yang digunakan untuk operasional kantor; seperti contoh mereka menggunakan perangkat pribadi untuk mengakses email perusahaan atau menyimpan data-data perusahaan di cloud publik karena alasan kemudahan akses, dan di perangkat yang sama mereka juga melakukan banyak aktifitas pribadi seperti menjelajahi internet, chatting, hingga beraktifitas di sosial media. Berbagai ancaman bisa saja muncul karena ‘perilaku’ ini; seperti serangan malware hingga kebocoran data, karena itu mau tidak mau para eksekutif perusahaan juga perlu mengatur elemen-elemen sosial di perusahaan mereka. 

Mereka (para eksekutif perusahaan) perlu mulai berpikir tentang bagaimana menerapkan kebijakan dan infrastruktur yang mampu mengakomodir kebutuhan karyawan-karyawan generasi baru, agar menjadi tetap kompetitif di pasar. Terlepas dari perangkat yang digunakan karyawan mengakses data-data perusahaan melalui sebuah aplikasi, mereka berharap bisa mengakses apliaksi dan data perusahaan dengan kinerja yang sama atau bahkan lebih baik dari yang mereka dapatkan ketika menggunakan dekstop PC. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perusahaan perlu memiliki infrastruktur backend yang mampu membantu mereka untuk mengirimkan berbagai konten yang terdapat banyak gambar, mampu mengatur prioritas dari trafik untuk mengatasi latensi jaringan mobile, dan menawarkan visibilitas ke dalam kinerja sebuah aplikasi.

Seperti yang sudah disebutkan, ancaman keamanan di dunia saat ini telah berkembang menjadi semakin rumit, canggih dan masif, dari berbagai sumber di berbagai perangkat, yang membuat sistem keamanan tradisional tidak lagi mampu menghadapi gempuran dari penjahat cyber. Akibatnya, sistem keamanan tradisional akan semakin tergerus dengan sistem keamanan IT yang multi-fungsi. Konvergensi ini juga akan terjadi di dalam konteks kinerja sistem IT perusahaan, karena bisnis akan menuntut perusahaan untuk dapat menyediakan pengalaman pelanggan yang memuaskan di berbagai perangkat. 

Salah solusi yang dapat memberikan perusahaan adalah solusi Application Delivery Controller (ADC), seperti yang ditawarkan oleh F5 Networks. Solusi ADC memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan tingkat ketersediaan akses ke aplikasi di dalam sebuah jaringan. Selain meningkatkan ketersediaan, solusi ADC juga mampu meningkatkan kinerja aplikasi dan jaringan perusahaan dengan sumber daya yang lebih sedikit dan efektif. Tidak luput, solusi ini juga mampu mengamankan trafik yang ingin mengakses aplikasi dan data sekaligus mengamankan aplikasi tersebut.